Visualisasi data kejadian bencana dari tahun 2020 hingga 2025. Memahami pola perubahan iklim dari El Niño hingga La Niña dan dampaknya terhadap keselamatan publik.
Dari curah hujan ekstrem pandemi hingga kekeringan panjang, berikut adalah catatan peristiwa yang membentuk kebijakan mitigasi kita.
Tahun dibuka dengan curah hujan tertinggi sejak 1866 (377mm/hari). Lebih dari 60.000 warga mengungsi di tengah ancaman awal COVID-19.
Tahun tersulit dengan 5.402 bencana. Siklon Tropis Seroja menghantam NTT, menjadi bukti nyata pemanasan suhu muka laut di wilayah selatan Indonesia.
Setelah 3 tahun La Niña, El Niño moderat menyebabkan kekeringan ekstrem. Luas Karhutla meningkat drastis, mengancam kesehatan pernapasan jutaan jiwa di Sumatera & Kalimantan.
Tahun dengan korban jiwa terbanyak dalam periode ini. Kerusakan ekosistem di wilayah hulu memperburuk dampak hujan ekstrem yang turun di sepanjang tahun.
Banjir masih menjadi ancaman terbesar bagi infrastruktur dan keselamatan jiwa, diikuti oleh cuaca ekstrem (angin kencang) yang merusak pemukiman.
Total Kejadian (2025)
Korban Jiwa
Warga Mengungsi
Rincian komparasi jumlah kejadian, jenis bencana dominan, dan dampak terhadap populasi.
| Tahun | Total Kejadian | Bencana Dominan | Orang Terdampak* |
|---|---|---|---|
| 2020 | 2.925 | Banjir & Cuaca Ekstrem |
~6,45 Juta
Menderita & Mengungsi
|
| 2021 | 5.402 Rekor | Banjir |
~8,28 Juta
Puncak pengungsian NTT/Kalsel
|
| 2022 | 3.544 | Cuaca Ekstrem & Banjir |
~5,94 Juta
Dampak Cuaca Ekstrem meluas
|
| 2023 | 4.940 | Karhutla & Kekeringan |
~7,12 Juta
Dampak ISPA & Krisis Air
|
| 2024 | 2.107 | Banjir |
~1,56 Juta
Penurunan tren pengungsian
|
| 2025 | 3.176 | Banjir & Cuaca Ekstrem |
~870.000+
Kenaikan Korban Jiwa Signifikan
|
*Data mencakup jumlah total warga meninggal, hilang, luka-luka, menderita, dan mengungsi sesuai rilis tahunan BNPB.
Peralihan cepat dari El Niño (2023) ke kondisi netral-basah mempercepat saturasi tanah, memicu longsor lebih mudah terjadi.
Alih fungsi lahan di daerah hulu sungai Sumatra dan Jawa mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan ekstrem.
Pulau Jawa mencatat frekuensi tertinggi, namun Sumatra mencatat dampak kerusakan dan korban jiwa terbesar tahun ini.
Kenaikan suhu bumi bukan sekadar membuat udara terasa panas. Energi panas tambahan di atmosfer dan lautan mengubah fundamental siklus hidrologi, menciptakan cuaca yang lebih ekstrem dan sulit diprediksi.
Hukum termodinamika menyatakan atmosfer yang lebih hangat 1°C dapat menampung 7% lebih banyak uap air. Ini memicu "bom hujan"—curah hujan ekstrem dalam waktu singkat yang menyebabkan banjir bandang mendadak.
Sebaliknya, krisis iklim membuat musim kemarau lebih panas dan panjang, mengeringkan gambut lebih cepat, sehingga kebakaran hutan (Karhutla) menjadi lebih mudah tersulut dan sulit dipadamkan.
Bencana tidak lagi berdiri sendiri. Kenaikan muka air laut memperburuk banjir rob, sementara badai tropis mendapatkan "bahan bakar" lebih banyak dari lautan yang memanas, meningkatkan daya rusaknya terhadap infrastruktur pesisir.
Tingkat Risiko Kerusakan: Sangat Tinggi
File PDF mencakup data mentah per provinsi dan analisis kerugian ekonomi.