Kepada Yang Terhormat Ibu Rahayu Saraswati Djojohadikusumo,
Salam hormat,
Kami dari 350 Indonesia, Yayasan PIKUL, Climate Rangers Jakarta, bersama Ibu Yasinta Yunita Adoe, seorang nelayan dan pembudidaya rumput laut dari Kota Kupang, NTT, menulis surat ini untuk mengabarkan bahwa kami secara resmi mengakhiri kampanye “Surat untuk Sara” yang kami luncurkan beberapa waktu lalu.
Kampanye ini berpusat pada surat terbuka dari Ibu Sinta, yang dengan tulus menyampaikan keresahan dan dampak nyata krisis iklim yang ia hadapi sebagai seorang ibu dan warga pesisir. Tujuan utama kami adalah mengetuk hati dan pengaruh Ibu, terutama dalam kapasitas Ibu sebagai Anggota DPR RI Komisi VII dan kerabat dekat Presiden terpilih, Bapak Prabowo Subianto, untuk mendukung petisi “3x Lipat Energi Terbarukan 2030.”
Kami mengapresiasi dan menyambut baik respons yang Ibu tunjukkan melalui pesan langsung (DM) di Instagram. Langkah Ibu yang membuka pintu komunikasi dan menyatakan kesediaan untuk berdiskusi lebih lanjut tentang isu iklim telah memberikan harapan dan menunjukkan adanya potensi aliansi, meskipun pertemuan langsung yang kami harapkan untuk Ibu Sinta belum terwujud.
Kami juga mencatat pernyataan Ibu dalam video pengunduran diri dari Dewan Perwakilan Rakyat bulan lalu, di mana Ibu menegaskan komitmen untuk tetap bekerja pada isu perubahan iklim. Komitmen ini memberikan kami semangat bahwa Ibu berpotensi menjadi pendukung yang berharga dalam perjuangan keadilan iklim.
Catatan Penting Mengenai Pilihan dan Privilese
Keputusan Ibu untuk mundur dari kursi DPR, dan kabar terakhir mengenai peninjauan kembali keputusan tersebut oleh Partai Ibu, sekali lagi menyoroti adanya privilese dan pilihan yang Ibu miliki. Privilese ini merupakan kontras yang mencolok dengan situasi yang dihadapi oleh jutaan masyarakat di garis depan krisis iklim, seperti Ibu Sinta.
Bagi masyarakat pesisir dan petani yang terkena dampak langsung, seperti Ibu Sinta yang harus berjuang keras mencari pinjaman hanya untuk memberi makan anak-anaknya pasca-Siklon Seroja, tidak ada pilihan untuk mundur. Mereka harus terus berjuang setiap hari untuk bertahan hidup, berharap bencana berikutnya tidak datang.
Kami berharap Ibu menyadari dan memanfaatkan secara serius posisi istime
wa yang Ibu miliki sebagai putri dari tokoh bisnis terkemuka yang juga mendapatkan mandat dalam memimpin arah negara mengatasi krisis iklim dan keponakan dari Presiden terpilih. Privilese ini adalah aset yang tak ternilai untuk:
- Menyuarakan kepentingan rakyat kecil yang tidak memiliki akses atau platform seperti Ibu.
- Mendorong kebijakan berani di tingkat tertinggi, bukan hanya “kerja iklim” dalam definisi yang umum, tetapi tindakan yang secara struktural mengubah arah pembangunan nasional menuju energi bersih dan keadilan iklim.
Kami berharap, meskipun kini Ibu tidak lagi menjabat di legislatif, komitmen Ibu pada isu iklim akan dimanifestasikan melalui tindakan nyata yang menekan Presiden Prabowo untuk mengambil langkah-langkah di luar janji-janji biasa (omon-omon).
Tindak Lanjut: Keadilan Iklim untuk Semua
Meskipun kampanye ini berakhir, perjuangan kami untuk keadilan iklim tidak berhenti. Kami mengundang Ibu, dan seluruh masyarakat yang mengikuti kampanye ini, untuk terus mendukung tuntutan kami kepada Presiden terpilih, Bapak Prabowo Subianto, agar mengubah Omon-Omon menjadi Aksi Nyata.
Kami mendesak Presiden Republik Indonesia untuk segera dan tanpa tunda menerbitkan PERATURAN yang mengikat, untuk mewujudkan Visi Indonesia 100% Energi Terbarukan 2030 dan Target 100 GW PLTS.
Tuntutan Aksi Nyata dengan Peraturan yang Mengikat ini mencakup tiga pilar utama:
- Pilar Mandat Hukum dan Keberlanjutan Target:Masukkan target 100% EBT pada 2030 dan 100 GW PLTS ke dalam Peraturan Presiden (Perpres) atau Peraturan Pemerintah (PP) sebagai dasar hukum yang kuat, menggantikan Peraturan Menteri atau instruksi yang sewaktu-waktu dapat diubah.
- Perbarui Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan jadikan target 100% EBT sebagai garis waktu yang wajib dipenuhi oleh semua kementerian terkait dan PLN.
- Pilar Moratorium dan Pengakhiran Energi Fosil:
- Moratorium Tegas terhadap izin pembangunan PLTU baru, termasuk pembangunan PLTU mulut tambang dan Captive.
- Peta jalan (roadmap) yang jelas dan terstruktur untuk mengakhiri operasional (phasing out) PLTU yang sudah ada secara adil dan terukur hingga tahun 2045, untuk dialihkan ke energi terbarukan.
- Pilar Akselerasi PLTS Berbasis Rakyat:
- Membebaskan PLTS Atap: Hapus batasan kapasitas dan pastikanskema net-metering yang adil.
- Jamin Kepastian Investasi: Tetapkan harga beli listrik (PPA) yang stabil dan menarik bagi investor PLTS.
- Prioritaskan Lokal: Wajibkan penggunaan komponen PLTS lokal secara bertahap untuk mendukung target 100 GW dan menciptakan industri dalam negeri.
Ini adalah kesempatan bagi Ibu Sara untuk membuktikan bahwa keberpihakan pada keadilan iklim bukan bergantung pada jabatan politik. Ini adalah tindakan yang akan memberikan rasa aman dan masa depan yang lebih baik bagi Ibu Sinta, anak-anaknya, dan jutaan warga pesisir lainnya yang tidak memiliki pilihan dan privilese seperti yang Ibu miliki.
Kami mengundang Ibu Sara dan seluruh pihak yang peduli, untuk bergabung dan mendukung gerakan ini. Tanda tangani dan sebarkan petisi kami untuk menuntut Presiden Prabowo Subianto membuat keputusan iklim yang adil dan berdampak nyata bagi rakyat Indonesia.
Kami meyakini bahwa suara kolektif perempuan ini akan mendatangkan dampak yang signifikan dan adil melalui kebijakan yang transformatif, khususnya bagi para perempuan yang paling rentan terhadap bencana dan kemiskinan akibat dampak krisis iklim.
Hormat kami,
Koalisi Kampanye Surat untuk Sara
Yasinta Yunita Adoe (Nelayan, Pembudidaya Rumput Laut, & Ibu dari Kota Kupang, NTT)
350.org Indonesia
Yayasan PIKUL
Climate Rangers Jakarta