Asap Kebakaran Hutan Bikin Sesak! Siapa yang Bayar Biaya Berobatnya?

Bukan perusahaan sawit dan tambang. Yang bayar: KAMU, lewat anak yang kena ISPA, sekolah yang diliburkan, pekerjaan yang terganggu hingga penerbangan yang batal.

TTD Petisinya
Ilustrasi Kebakaran Hutan

99%

Hampir seluruh titik api kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berasal dari pembukaan lahan yang disengaja — bukan kebakaran alami. Ini bukan takdir musim kemarau, ini pilihan bisnis yang biayanya dibebankan kepada rakyat.

Dampak yang Kamu Rasakan

Kesehatan

Asap & ISPA

Anak jadi sering sesak napas saat musim asap tiba.

Aktivitas

Sekolah & Penerbangan

Sekolah diliburkan, jadwal penerbangan batal karena jarak pandang turun.

Ekonomi

Harga Pangan Naik

Cabai dan beras makin mahal karena panen gagal.

Lingkungan

Banjir & Rob

Motor kerendam lagi, kerja gak bisa berangkat.

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia bukanlah sekadar krisis lokal, melainkan Bencana Iklim yang dampaknya dirasakan oleh seluruh planet. Bencana ini dipicu oleh aktivitas manusia yang membakar lahan serta pengeringan lahan gambut oleh korporasi demi kepentingan industri. Gambut yang mengering bertindak seperti bahan bakar fosil bawah tanah yang terbakar sangat dalam, menghasilkan polusi asap beracun yang mengancam kesehatan belasan juta jiwa hingga ke negara tetangga, sekaligus melepaskan miliaran ton cadangan karbon purba ke atmosfer secara masif.

Kondisi ini diperparah oleh krisis iklim global melalui fenomena kekeringan ekstrem dan gelombang panas yang memicu Climate Feedback Loop—sebuah lingkaran setan di mana perubahan iklim memperparah kebakaran gambut, dan kebakaran gambut tersebut mempercepat pemanasan global. Ketika benteng karbon alam terbesar dunia ini hancur demi keuntungan sekelompok korporasi, target penahanan suhu bumi dalam Perjanjian Paris menjadi mustahil dicapai. Oleh karena itu, penghentian pengeringan gambut dan penerapan prinsip Make Polluters Pay adalah langkah mendesak untuk menyelematkan masa depan iklim kita bersama.