Oleh: Ade Zahra Putri A & Audia Nuriasari

Di tengah krisis iklim, Indonesia sudah seharusnya mempercepat transisi energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Indonesia juga memiliki tanggung jawab memprioritaskan langkah-langkah mendukung transisi dari sumber energi fosil, sumber p emisi gas rumah kaca, menuju pemanfaatan sumber energi terbarukan, yang lebih ramah lingkungan.  Oleh karenanya, transisi dari energi kotor menuju energi bersih harus menjadi prioritas utama.

Upaya untuk merangsang pengembangan teknologi terbarukan, investasi dalam infrastruktur hijau, serta adopsi kebijakan yang mendukung penggunaan energi bersih harus menjadi bagian integral dari agenda pembangunan Indonesia. Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat tentang manfaat dan kepentingan transisi energi yang lebih ramah lingkungan juga sangat penting. Dengan demikian, Indonesia dapat mencapai posisi yang lebih baik dalam mengatasi krisis iklim global, menjaga keberlanjutan sumber daya, dan memberikan contoh positif bagi negara-negara lain dalam perjalanan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Di episode perjalanan mencari solusi kali ini, 350.org Indonesia bersama Komunitas Climate Rangers Yogyakarta, mengunjungi salah satu desa mandiri energi di  Kulonprogo, Yogyakarta. Lokasi tepatnya di Dusun Kedungrong, Kelurahan Purwoharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo. Warga di dusun itu terlibat aktif dalam memanfaatkan dan mengelola Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk pasokan listrik di setiap rumah. Tenaga PLTMH ini berasal dari debit air Sungai Progo yang mengalir deras dari wilayah hulu Sungai.

Lika-liku Pembangunan PLTMH Kedungrong

PLTMH di Dusun Kedungrong ini merupakan salah satu pembangkit listrik energi terbarukan  yang dikelola langsung oleh dan untuk warga di dusun tersebut. Pembangkit listrik ini memanfaatkan potensi debit air yang cukup kuat  dari aliran Sungai Progo. Kecepatan arusnya mencapai 7.000-7.500 m³/s untuk sungai utama.

“Arusnya ada 7.000 m³/s untuk sungai utama, biasanya bisa sampai 7.500 m³/s, kalau mikrohidro itu cuma minjam 1 m³/s. Prosesnya melibatkan perubahan arah aliran dari saluran utama ke dalam turbin sebelum akhirnya kembali mengalir ke saluran utama lagi,” jelas Rejo Handoyo selaku penduduk asli sekaligus salah satu pengelola PLTMH tersebut.

Sejarah PLTMH di Dusun Kedungrong cukup panjang. Pembangkit listrik ini berdiri pada akhir tahun 2012. Pada awalnya, pembangunan PLTMH ini merupakan program inisiatif peserta KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari UGM (Universitas Gadjah Mada), Yogyakarta.

Setelah itu,  pada  2011 muncul  Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) Yogyakarta yang menginisiasi sosialisasi. Sosialisasi tersebut memakan waktu selama hampir 1 tahun, kemudian barulah dimulai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di dusun tersebut. 

Sebelumnya warga sekitar menolak keberadaan PLTMH, akibat kurangnya informasi yang mencukupi i terkait cara kerja pembangkit tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu dan makin lengkapnya informasi,  warga di dusun tersebut  akhirnya menyetujui.

Setelah mendapat persetujuan warga, dengan bantuan dari dinas dan ahli teknik sipil, dibangunlah pembangkit listrik PLTMH itu. Melalui cara musyawarah di dusun, warga menentukan siapa saja yang menjadi pengurus pembangkit listrik. Tak hanya sampai di situ, warga, khususnya yang diamanatkan sebagai teknisi lokal untuk memelihara mesin, dibekali pengetahuan mengenai cara kerja dan perakitan alat. Tujuanya, agar teknisi lokal itu bisa secara mandiri memelihara alat tersebut. “Jadi, waktu itu awal pembangunan, beberapa orang termasuk saya disekolahkan ke pabriknya untuk diberi edukasi perakitan alat dan cara kerja alat,” ungkap Rejo, teknisi lokal PLTMH Dusun Kedungrong .

Pemerintah daerah juga turut mendukung pemanfaatan PLTMH dengan maksimal. Dinas di Kabupaten Kulonprogo  memberikan dukungan penuh  terhadap pengembangan  PLTMH melalui kemudahan regulasi yang diberikan. Mereka juga memberikan pengarahan mengenai pengembangan PLTMH agar dapat memperbesar dampak dan manfaat bagi warga.

“Kalau regulasi dari dinas setauku, dia cuma pokoknya alat disini dirawat, dijalankan, listriknya dipakai. Dipakai untuk apa saja terserah, kalau bisa (untuk) ekonomi” ujar Redjo, “Meskipun demikian, kami mengharapkan bahwa dukungan dari pemerintah daerah dapat lebih maksimal. Mengingat biaya perawatan motor dinamo PLTMH yang tidak murah.”

Di samping itu, menurut Rejo, cara mempersuasi  warga di awal untuk mengonsumsi pasokan listrik dari PLTMH juga masih dilakukan secara manual dan dengan pembuktian cara kerja alat. “Setelah terbukti bekerja, para warga akhirnya bersedia untuk memasang atau memakai tenaga pembangkit listrik ini. Jika dibandingkan dengan arus PLN, arus dari PLTMH ini lebih besar,” jelasnya

“Arus menggunakan PLN hanya 190 kalau drop 170. Berbeda halnya dengan mikrohidro 230 dan minim di 200,” ujar Rejo. Oleh karenanya, lanjutnya, untuk alasan keamanan, akan dibikinkan jaringan sendiri bagi yang ingin memasang mikrohidro. Di sisi lain, biaya yang dikeluarkan untuk memasang alat pemasok listrik dari PLTMH di setiap rumah adalah sekitar 600 ribu. “Pasang alat pembangkit ini di rumah masing-masing sekitar 600 ribu-an dengan menyediakan kabel jaringan atas, kotak Miniature Circuit Breaker (MCB), stop kontak (tanam atau tempel), pipa khusus untuk PLN,” terang Rejo,“Metode pemasangan alat pun dikerjakan secara gotong-royong.”

Dengan kapasitas 18 kWH per unit pembangkit (total terdapat 2 unit), terangnya, PLTMH ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik 50 kepala keluarga (KK) di dusun tersebut. Menurut pengalaman Redjo, biaya yang harus dikeluarkan satu rumah apabila menggunakan meteran PLN non subsidi dengan daya 900 Watt mencapai 50 ribu per bulannya. Jauh berbeda dengan biaya yang dikeluarkan apabila menggunakan pasokan listrik dari PLTMH, yakni hanya  12 ribu per 35 hari, berapapun Watt yang dibutuhkan. “Harga itupun sudah termasuk iuran lampu jalan sebagai penerangan,” ungkapnya, “Dengan lebih murahnya biaya yang dibutuhkan, warga Dusun Kedungrong, terutama yang memiliki industri rumahan sangat terbantu, mengingat biaya operasional yang mereka keluarkan akan jauh berkurang.” Dengan kata lain, lanjut Rejo, PLTMH Dusun Kedungrong turut berkontribusi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi warga sekitar.

Di samping itu, cara kerja pembangkit listrik tersebut dijalankan secara bergantian setiap dua minggu agar berumur panjang. Alat tersebut masih dijalankan secara bergantian karena mereka belum mempunyai alat yang berfungsi untuk menyatukan frekuensi listriknya. Meski begitu, alat ini dinilai efektif untuk memasok aliran listrik di tiap rumahnya. Hal itu dibuktikan banyaknya kepala keluarga yang  mendapatkan pasokan listrik dari PLTMH. Saat ini, ada sebanyak 50 kepala keluarga (KK) yang telah mempercayakan pembangkit tersebut untuk memasok listrik ke rumahnya. Jumlah pengguna sebanyak 50 KK ini diperkirakan akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Dampak Positif PLTMH bagi Warga Dusun Kedungrong

Upaya pemanfaatan PLTMH di Dusun Kedungrong memiliki dampak yang positif dan penting bagi warga sekitar. Warga sekitar tidak lagi bergantung pada pasokan energi dari luar wilayahnya. Mereka mampu untuk mandiri memproduksi energi yang dapat memenuhi kebutuhan lokal. Hal ini menjadikan dusun Kedungrong sebagai desa swasembada energi. Inilah bentuk kedaulatan energi di akar rumput.

Kemandirian energi ini banyak mendatangkan manfaat bagi warga. Selain berguna untuk memasok listrik di rumah-rumah warga, PLTMH ini juga membawa dampak positif dan penting bagi perekonomian masyarakat di dusun tersebut. Misalnya saja, para warga turut aktif memanfaatkan pasokan listrik dari pembangkit ini untuk kegiatan mengelas, usaha bengkel hingga warung makan. Intinya, pasokan listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik energi terbarukan ini sangat bermanfaat tak hanya bagi kebutuhan listrik sehari-hari masyarakat, tetapi juga menunjang kegiatan ekonomi mereka.

“Pemanfaatan listrik ini tidak hanya berlaku untuk keperluan rumah, tetapi juga bagi usaha. Misalnya, Pak Supri menggunakan listrik untuk memenuhi berbagai kebutuhannya dalam membuat lis kayu dan semua peralatan tukang kayunya bekerja dengan listrik. Selain itu, biaya listrik hanya Rp 12.000 /35 hari,” ungkap Rejo. Pemanfaatan PLTMH ini, menurutnya,  berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi di lingkungan tersebut. “Semakin banyak usaha kecil yang dapat memanfaatkan listrik dengan biaya terjangkau, maka semakin besar pula peluang pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut,” pungkasnya.

Menurut Rejo, warga yang memiliki industri rumahan juga sangat terbantu dengan minimnya biaya operasional yang mereka keluarkan. Sehingga, hal ini memicu bertumbuhnya ekonomi lokal secara signifikan. “Manfaat lain yang tentunya dihasilkan dari penggunaan PLTMH di Dusun Kedungrong adalah dusun ini turut berkontribusi dalam mengurangi polutan hasil industri energi,” ungkapnya, “Pemanfaatan PLTMH merupakan suatu upaya solusi energi terbarukan yang dampaknya dapat dirasakan secara nyata.”

Perubahan positif yang dirasakan masyarakat, lanjut Redjo, merupakan dampak nyata dari solusi energi terbarukan yang bebas polutan. Maka dengan demikian, keputusan penggunaan PLTMH sebagai sumber energi untuk memenuhi kebutuhan energi dusun Kedungrong merupakan keputusan positif yang memiliki dampak nyata.

Tantangan Pengembangan PLTMH Kedungrong

Meski selama ini PLTMH ini dinilai cukup efektif untuk memasok listrik ke rumah-rumah warga, masih terdapat beberapa kendala, seperti kendala cuaca dan campur tangan manusi, ujar Rejo. Di musim hujan, misalnya, menurut Rejo, motor alat pembangkit akan lebih rentan untuk terbakar karena debit air yang mengalir terlalu besar. “Akan tetapi, hal ini dapat diatasi dengan perbaikan dan pemeliharaan alat yang semakin baik dari waktu ke waktu,” pungkasnya.

Di sisi lain, lanjut Rejo, yang menghambat efektivitas kerja alat adalah sampah plastik dan dedaunan yang menyumbat turbin. “Rata-rata sampah ini merupakan sampah kiriman dari daerah hulu berupa sampah plastik, botol hingga popok bayi,” jelasnya, Hal ini masih sangat disayangkan.”

Menurut Rejo,lat akan bekerja lebih efektif dan efisien jika tak ada sampah yang mencemari sungai. “Sebenarnya ini kalau mau bagus kaya PLN bisa. Air yang mengalir bersih dari sampah, kuncinya cuma itu,” terang Rejo, “Oleh karenanya, masalah terkait pencemaran air ini juga semestinya menjadi perhatian bersama, mengingat pentingnya PLTMH dusun Kedungrong bagi warga sekitar.”

Pembangunan PLTMH di dusun Kedungrong menjadi salah satu langkah progresif dalam transisi energi berkelanjutan di Indonesia. “PLTMH ini membuktikan bahwa energi terbarukan mampu menyuplai listrik untuk memenuhi kebutuhan  energi lokal,” ujar Rejo, Pemanfaatan PLTMH juga terbukti berdampak positif dalam pertumbuhan ekonomi lokal.”

Meski berhasil, jelasnya, operasional PLTMH masih memiliki beberapa tantangan, seperti cuaca ekstrem dan sampah plastik yang menyumbat. “Dukungan penuh pemerintah setempat dan kerjasama elemen masyarakat sangat penting untuk kelangsungan operasional PLTMH,” jelasnya. Pedek kata, PLTMH Dusun Kedungrong dapat menjadi inspirasi bagi komunitas masyarakat lain dalam mempercepat transisi menuju energi bersih. Pasalnya, investasi dalam sumber daya terbarukan membuka peluang ekonomi dan lingkungan yang lebih cerah untuk generasi mendatang.

FacebookTwitter